Pada abad kelima Hijriyah, tepatnya 1 Ramadan tahun 471, lahir seorang bayi yang masih keturunan Rasulullah diberi nama Abdul Qodir.Sejak lahir ia memiliki kelebihan, tak mau menyusu disiang hari karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Pada usia enam tahun, sang ibu mengirimnya belajar keluar kota. Ia akan dititipkan pada sebuah kafilah. Abdul Qodir diberi bekal uang dan bahan makanan. Untuk keamanan, bekal uang dijahit di baju Abdul Qodir dan tersembunyi. Dan ada satu hal pesan ibunya yang tak bisa dilupakan men jelang berangkat:"Jangan pernah bohong dan bicaralah jujur." Usai subuh, kafilah bergerak dengan 20 unta dan lima ekor kuda. Seekor unta dipenuhi barang di sisi kanan dan kiri. Abdul Qodir yang masih kecil di tempatkan di tempat barang di kiri unta milik pimpinan kafilah. Ia duduk di atas barang-barang dagangan itu. Untuk perjalanan ini, ibu Abdul Qodir membayarnya dengan beberapa dirham. Perjalanan menempuh sekitar tiga hari tiga malam. Atas kebaikan pimpinan kafilah, Abdul Qodir bisa menikmati makanan jatah kafilah. Pimpinan kafilah menyukai Abdul Qodir karena perangainya yang halus , lembut, dan menghormati orang yang lebih tua. Padahal, anggota kafilah tahu bahwa Abdul Qodir masih Cucu Rasulullah sehingga kadang mereka memanggilnya Sayyid. Abdul Qodir masih keturunan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi thalib, cucu Rasulullah. Di wilayah arab keturunan Sayyidina Hasan Selalu dipanggil sayyid. Sementara keturunan Husain dipanggil Syarif. Kemudian panggilan syarif jarang terdengar dan sayyid yang lebih populer. IMAM SHALAT Malam hari kafilah berhenti untuk isturahat dan memasang tenda. Beberapa orang berjaga. Tempat itu sudah biasa menjadi tempat peristirahatan malam beberapa kafilah. Beberapa kafilah bisa bertemu dan bergabung disini. Bahkan tak jarang saat itu mereka bisa langsung terjadi transaksi jual beli. Abdul Qodir mulai tampak jiwa keulamaan dan kepemimpinanya. Misalnya, ia mulai berani mengumandangkan azan saat salat tiba dan mengajak semua kafilah melaksanakan salat berjamaah. Diantara beberapa kafilah itu tak seorang pun yang bersedia menjadi imam mereka karena penguasaan Al-Quran yang buruk. Maka Abdul Qodir yang sudah hafal Al-Quran itu menjadi imam. Suaranya merdu dan bacaannya bagus membuat kafilah menyukainya. Sejak saat itu kafilah memanggilnya syaikh. Namun, Abdul Qodir tetap menjalani kehidupan anak-anaknya. Ia juga suka membantu jika ada kesulitan. Dan yang paling di kesankan para kafilah itu adalah perjalanan bersama Abdul Qodir ini sangat lancar dan udara seolah menyertai mereka dengan kesejukan. Selama perjalalanan, kafilah banyak bercerita tentang berbagai hal. Ada yang lucu dan ada pula yang menyeramkan. "Jangan khawatir, nanti malam kita akan menginap di lembah Fursan dan kita harus waspada. Sebab, kadang kala muncul perampok bengis yang tidak segan-segan akan membunuh mangsanya," kata pimpinan kafilah. Abdul Qodir tak pernah takut. Ibunya selalu menganjurkan Abdul Qudir Doa-doa selamat dari Rasulullah. Membaca ayat kursi, Al-falaq, Annas, dan surat Al-ikhlas. Sepanjang jalan Abdul Qodir juga selalu membaca Al-quran dengan hafalan yang sangat bagus. Sepanjang jalan kafilah bisa mendengar suara bacaan itu dari bibir anak dengan suara yang khas anak-anak. Ketika mereka meminta Abdul Qodir menyanyi karena suara yang merdu, ia menolak karena tak menguasai satu lagu pun yang bisa didendangkannya. Kecualai, jika terpaksa ia bisa melantunkan syair-syair arab kuno yang diajarkan ibunya. Kafilah itu bertepuk tangan setelah mendengarnya dan mereka kemudiam memberinya makanan. PENYAMUN Perjalanan hari kedua terlihat memperlihatkan keletihan. Suara tawa mulai jarang terdengar. Sebagian sudah terlihat tidur. Yang berjaga mulai terlihat tercenung saja. Berbeda dengan Abdul Qodir yang masih segar dan masih tetap membaca Al-Quran. Pimpinan kafilah akhirnya menghentikan mereka untuk beristirahat. "Bukankah kita seharusnya beristirahat di lembah Fursan?" tanya seorang anggota kafilah. "Saya lihat semua sudah terlalu letih," kata sang pemimpin. " tapi, ini tidak bisa di jadikan tempat istirahat?" tanya yang lain " tidak ap-apa." "Bagai mana dengan keamanan?" "Insya Allah aman. Di sini juga ada air."
Usai salat magrib dan isya dengan jamak dan qasar, mereka menikmati makan malam. Langit begitu cerah dan rembulan menyapa mereka. Angin malam menegur mereka dengan dekapan dingin. Tiba-tiba mereka melihat debu beterbangan dan terdengar suara ringkikan beberapa ekor kuda. Mereka lantas bergegas berdiri.
"Ada apa?" tanya seorang anggota kafilah.
"Senjata siap!" Perintah pimpinan, memberi aba aba.
"Kafilah kah?" "Penyamun," seru mereka menahan kaget tinggi.
Setelah mereka mendekat baru terlihat wajah mereka yang bengis dan mengayunkan pedangnya yang berkilau di terpa cahaya bulan.
"Kalian akan aman dengan kami setelah menyerahkan semua harta benda kalian. Kami juga akan menyisakan bekal untuk kalain bisa kembali ke kampung halaman kalian tampa kelaparan." kata kepala penyamun yang mengenakan pakaian serba hitam. "Jika tidak, kami tidak ragu-ragu mencabut nyawa kalian. Siapa pimpinan kafilah?"
Pimpinan kafilah berdiri. "Pindahkan semua barang ke unta-unta kami," perintah sang penyamun. Semua melaksanakan tugas penyamun dengan pengawasan dan acungan senjata tajam.
Setelah semua barang di ambil, kini penyamun menggeledah tas dan baju mereka. Katika berhadapan dengan Abdul Qodir, penyamun itu sedikit terpana.
"Kamu membawa uang?"
"iya," jawab Abdul Qodir.
"Di mana uang mu?"
"Dijahit ibi di bagian pakaian ku."
"Kenapa?"
"Agar tidak di curi orang."
"Kenapa engkau mengatakannya kepada ku?"tanya penyamun itu.
"Aku tidak boleh bohong."
"Jika engkau tidak berbohong engkau akan kehilangan hartamu.":
"Tapi aku akan berdosa kepada Allah dan kepada ibu yang memesankan ku itu."
"Untuk apa uang itu?"
"Untuk bekal belajar."
"Bagai mana jika aku minta uangmu?"
"Boleh."
"Kenapa engkau bolehkan?"
"Allah akan menggantinya dengan yang lebih banyak."
"Kau percaya itu?"
"Aku harus percaya karena itu janji Allah. Orang yang tidak percaya janji Allah akan menderita."
"Jika aku mengambil hartanya apakah aku juga berdosa?"
"Sangat berdosa."
Beberapa penyamun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban polos Abdul Qodir. Tapi pimpinan itu membentak mereka yang tertawa. "Diam! Aku serius bertanya kepada anak ini."
"Jika aku berdosa kenapa?"
"Kata ibu, orang yang berdosa akan masuk neraka yang panasnya bisa mendidihkan otak."
"Berapa lama aku akan di neraka?"
"Jika engkau beriman, maka engkau akan di neraka selama seribu tahun. Jika engkau tidak beriman maka engkau akan selamanya di neraka."
Pimpinan penyamun itu lantas memanggil anak buahnya dan menjauh dari kafilah.
"Sudah kita ambil saja uangnya dan kita pergi," kata anak buahnya.
"Tidak, aku melihat sesuatu pada anak ini. Dia berani dan jujur. Masih adakah kejujuran di negeri ini. Banyak orang saleh tapi tak jujur. Banyak pimpinan yang tidak jujur. Banyak orang yang cerdas dan pintar tapi tidak jujur. Kata-kata neraka dari anak itu benar-benar mengganggu ku. Kamu yakin bocah, jika engkau berikan uangmu engkau akan diganti Tuhanmu? Kau yakin jika bohong berdosa dan berdosa mengantar ke neraka?" "Dan celaka dan selalu menderita hidupnya," Abdul Qodir menimpali.
"Tapi aku tidak menderita, aku kaya."
"Belum. Nanti Allah akan mengazabmu dengan siksaan sehingga semua hartamu akan lenyap tampa bekas."
Penyamun itu kemudian terdiam. Kemudian ia berdiri.
"Wahai anak buahku. Kini kembalikan semua barang kepada pemiliknya."
"Bagai mana mungkin?" tanya anak buahnya.
"Segera laksanakan perintahku!"
Pimpinan penyamun itu lantas mencium tangan Abdul Qodir. "Ajari aku kehidupan wahai guru." Usia penyamun yang sudah di atas 45 tahun itu takluk dan tunduk. "Aku sangat takut api neraka."
 |
| Add caption |
Abdul Qodir lantas mengislamkan dan mengajari mereka agama. . Kafilah gembira. Para penyamun dan kafilah akhirnya mengikuti Abdul Qodir hingga Bagdad dan ikut belajar agama. Dalam riwayat, para perampok itu juga kemudian menjadi orang-orang berilmu yang sangat tinggi dan sangat dekat dengan Allah. Sebagian menyebutkan bahwa para penyamun itu kemudian menjadi wali Allah setelah semua harta hasil curian mmereka sedekahkan dan bertobat siang dan malam kepada Allah.. wallohu a'lam...